PENGERTIAN KALIMAT: Ciri, Jenis Unsur, Struktur, & Fungsi

Kalimat memiliki peran yang sangat penting dalam berkomunikasi. Melalui kalimat, orang bisa menyampaikan informasi, menanyakan suatu hal, bahkan untuk mengekspresikan emosi yang sedang dirasakan sesorang. Untuk itu mari kita pelajari lebih detail terkait kalimat.

Pengertian Kalimat

Kalimat adalah satuan bahasa terkecil dalam bentuk lisan atau tulisan yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Dalam bentuk lisan, kalimat diucapkan dengan suara naik turun dan keras lembut, disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir yang diikuti kesenyapan.

Ciri-Ciri Kalimat

Adapun ciri-ciri kalimat di antaranya sebagai berikut.

  • Pada bahasa lisan diawali dengan kesenyapan serta diakhiri dengan kesenyapan pula.
  • Pada bahasa tulis diawali huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik (.), tanda tanya (?), dan serta tanda seru (!).
  • Kalimat dalam bentuk tulisan dapat disertakan pula tanda baca seperti koma (,), titik dua (:), tanda pisah (-), dan spasi.
  • Kalimat aktif minimal terdiri atas unsur subjek dan predikat.
  • Predikat transitif disertai dengan objek, predikat intransitive bisa disertai dengan pelengkap.
  • Mengandung satuan makna, ide, atas pesan yang jelas.
  • Memiliki urutan yang logis di setiap kata yang mendukung fungsi (SPOK) dan disusun ke dalam satuan dengan fungsinya.
  • Dalam paragraf terdiri atas dua kalimat atau lebih. Dari keseluruhan kalimat tersebut disusun dalam satuan makna pikiran yang saling berkaitan. Antar kalimat tersebut dihubungkan dengan menggunakan konjungsi.

Unsur-Unsur Kalimat

Dalam setiap kalimat tentu memiliki unsur yang menyusunnya. Gabungan unsur tersebut akan membentuk kalimat yang memiliki makna. Adapun unsur-unsur yang terdapat dalam kalimat yaitu:

  1. Subjek/Subyek (S)
  2. Predikat (P)
  3. Objek/Obyek (O)
  4. Pelengkap (Pel.)
  5. Keterangan (K)

Ciri dan Contoh Masing-Masing Unsur Kalimat

1. Subjek/Subyek (S)

Dalam sebuah kalimat, minimal harus memiliki dua unsur pembangun, yaitu subjek dan predikat. Dalam pola penulisan kalimat bahasa Indonesia, pada umumnya subjek berada sebelum predikat. Namun hal tersebut tidak berlaku pada jenis kalimat inversi, yaitu kalimat dengan susunan predikat mendahului subjek.

Subjek dalam kalimat pada umumnya berwujud nomina atau kata benda. Perhatikan beberapa contoh kalimat berikut!

  • Kami berkumpul di titik yang sudah ditentukan panitia,
  • Raisa memiliki suara yang khas, berbeda dengan penyanyi lainnya.
  • Buku yang berserakan itu sudah terlihat rapi.

Dari contoh kalimat tersebut, kata kami, Raisa, dan buku merupakan subjek. Hal ini dikarenakan ketiga kata tersebut berada di posisi sebelum predikat.

Namun, tidak semua subjek berupa nomina atau kata benda. Ada beberapa jenis kata yang juga menempati fungsi subjek. Perhatikan beberapa kalimat berikut!

  • Sholat merupakan kewajiban bagi setiap muslim.
  • Dua merupakan bilangan prima yang paling kecil.
  • Jatuh cinta bisa dialami oleh siapa saja.

Pada kalimat di atas sholat, dua, dan jatuh bukanlah jenis nomina atau kata benda, namun kata-kata tersebut berada di posisi sebelum predikat, sehingga ketiganya menempati posisi subjek.

Ciri-ciri Subjek:

  • Subjek mampu menjawab pertanyaan apa dan
  • Subjek bisa diikuti dengan kata
  • Subjek bisa didahului dengan kata bahwa.
  • Subjek memiliki keterangan pewata yang (konjungsi dengan menggunakan kata yang)
  • Subjek tidak diawali dengan preposisi, seperti dari, dalam, di-, ke-, kepada, pada.
  • Subjek berupa nomina atau frasa nomina.

2. Predikat (P)

Salah satu unsur pembentuk suatu kalimat adalah predikat. Dalam pola penulisan kalimat bahasa Indonesia, predikat terletak sesudah subjek.

Predikat dalam kalimat bisa berupa kata, yaitu verba, adjektiva, nomina, numeralia, bahkan preposisional. Selain kata, predikat juga berupa frasa, sebagai contoh frasa verbal, frasa nominal, frasa adjektiva, atau frasa numeralia (bilangan). Perhatikan contoh kalimat berikut!

  • Rasyid menyukai jenis musik melayu.
  • Hasna bersepeda setiap pagi selama libur sekolah.
  • Naura suka bernyanyi bersama Ayahnya.

Pada kalimat tersebut terdapat kata menyukai, bersepeda, bernyanyi. Ketiganya menempati posisi sebagai predikat.

Ciri-ciri Predikat:

  • Predikat mampu menjawab pertanyaan mengapa dan
  • Predikat bisa berupa kata ialah atau
  • Ingkaran dapat diwujudkan dengan kata
  • Predikat bisa diikuti dengan modalitas, seperti telah, sudah, sedang, belum, akan, ingin, hendak, mau, dan sebagainya.

3. Objek (O)

Objek tidak termasuk dalam unsur pembangun sebuah kalimat. Objek terletak setelah predikat dengan kategori verbal transitif (kalimat aktif transitif) yang minimal memiliki tiga unsur utama yaitu subjek, predikat, dan objek.

Pada kalimat aktif, objek akan berubah menjadi subjek jika kalimat tersebut diubah dalam kalimat pasif. Sebaliknya, objek dalam kalimat pasif akan menjadi subjek jika kalimat tersebut diubah dalam kalimat aktif.

Pada umumnya, predikat berupa nomina. Perhatikan contoh objek pada beberapa kalimat berikut!

  • Farah mengayuh sepeda.
  • Silvia membeli beberapa buku gambar.
  • Ayam-ayam sedang memakan jagung.

Pada kalimat di atas, kata sepeda, buku gambar, jagung merupakan sebuah objek.

Ciri-ciri Objek:

  • Objek berada di belakang predikat.
  • Objek dapat berubah menjadi subjek dalam kalimat pasif.
  • Objek tidak didahului dengan preposisi.
  • Objek diawali dengan kata

4. Pelengkap (Pel.)

Pelengkap bukanlah termasuk dalam unsur pembangun sebuah kalimat. Pelengkap memiliki kesamaan dengan objek, yaitu bersifat wajib ada untuk melengkapi verba predikat kalimat. Pelengkap menempati posisi di belakang predikat serta tidak didahului preposisi.

Walaupun memiliki kesamaan, pelengkap dan objek memiliki perbedaan pada kalimat pasif. Pada kalimat pasif, pelengkap tidak menjadi subjek. Jika terdapat objek dan juga pelengkapdalam kalimat aktif, objek akan menjadi subjek dalam kalimat pasif, bukan pelengkap.

Berikut contoh kalimat dengan unsur pelengkap.

  • Ayah selalu bekerja dengan sungguh-sungguh.
  • Baju Nadia tersangkut paku.
  • Tas itu terbuat dari kulit buaya.

Pada kalimat di atas, dengan sungguh-sungguh, tersangkut paku, dan dari kulit buaya, merupakan unsur pelengkap dalam kalimat.

Ciri-ciri Pelengkap:

  • Pelengkap berada di belakang kalimat.
  • Pelengkap tidak didahului dengan preposisi.
  • Pelengkap bisa disisipi dengan unsur lain, yaitu objek.

Di bawah ini contoh kalimat dengan pelengkap yang disisipi oleh objek.

  • Reva memakan buah manggis bersama adiknya.
  • Amanda menyanyikan lagu dengan merdu.
  • Nova membacakan buku cerita sambil tidur-tiduran.

Pada kalimat di atas, kata bersama adiknya, dengan merdu, dan sambil tidur-tiduran, merupakan pelengkap yang tidak mendahului predikat, atau pelengkap yang didahului dengan objek.

5. Keterangan (K)

Keterangan merupakan unsur kalimat yang menjelaskan lebih lanjut mengenai sesuatu yang terdapat dalam sebuah kalimat. Keterangan akan memberikan informasi mengenai tempat, waktu, cara, sebab, dan juga tujuan. Keterangan dapat berupa kata, frasa, atau anak kalimat.

Keterangan yang berupa frasa ditandai dengan preposisi yang berupa di, ke, dari, dalam, pada, kepada, terhadap, tentang, oleh, dan untuk. Sedangkan keterangan yang berwujud anak kalimat ditandai dengan konjungsi atau kata penghubung berupa ketika, karena, meskipun, supaya, jika, dan sehingga.

Ciri-ciri Keterangan:

  • Keterangan bukan termasuk dalam unsur utama dalam kalimat.
  • Keterangan tidak terikat dengan posisi, yaitu bebas di mana saja ia dalam kalimat.

Jenis-jenis keterangan

Keterangan memiliki beberapa jenis yang didasarkan atas fungsi atau perannya di dalam suatu kalimat. Berikut uraian terkait jenis-jenis keterangan.

1. Keterangan Waktu

Keterangan waktu dapat berupa kata, frasa, atau anak kalimat. Keterangan waktu merupakan kata yang menyatakan waktu, bisa berupa: kemarin, besok, sekarang, kini, lusa, siang, dan malam.

Keterangan waktu berupa frasa merupakan rangkaian kata yang juga menyatakan waktu. Contohnya: kemarin pagi, hari Sabtu, 8 Agustus, dan juga minggu depan.

Keterangan waktu berupa anak kalimat ditandai dengan adanya konjungsi yang juga menyatakan waktu.

Contohnya: setelah, sesudah, sebelum, saat, sesaat, sewaktu, dan ketika.

2. Keterangan Tempat

Keterangan tempat berupa frasa yang menyebutkan tempat yang ditandai oleh preposisi yang berupa di, pada, dan dalam.

Contoh: Raisa akan mengadakan konser di Bali.

3. Keterangan Cara

Keterangan cara dapat berupa kata ulang, frasa, atau anak kalimat yang menjelaskan cara. Keterangan cara yang berupa kata ulang adalah perulangan adjektiva.

Keterangan cara yang berupa frasa ditandai adanya kata dengan atau secara. Keterangan cara yang berupa anak kalimat ditandai adanya kata dengan dan dalam.

Contoh: Lila memotong kain dengan menggunakan gunting.

4. Keterangan Sebab

Keterangan sebab berupa frasa dan anak kalimat. Keterangan sebab yang berwujud frasa ditandai dengan adanya kata karena atau lantaran yang diikuti dengan nomina atau frasa nomina.

Keterangan sebab yang berwujud anak kalimat ditandai dengan adanya konjungsi karena atau lantaran.

Contohnya: Ardi tidak jadi berangkat latihan sepak bola karena hujan turun sangat deras.

5. Keterangan Tujuan

Keterangan tujuan dapat berupa frasa ataupun anak kalimat. Keterangan tujuan yang berwujud frasa ditandai dengan kata untuk atau demi.

Sementara keterangan tujuan yang berupa anak kalimat ditandai dengan adanya konjungsi supaya, agar, dan untuk.

Contohnya: Sebelum berenang, Angkasa melakukan pemanasan terlebih dahulu supaya tidak mengalami kram.

6. Keterangan Aposisi

Aposisi merupakan ungkapan yang berfungsi menambah atau menjelaskan ungkapan sebelumnya dalam kalimat yang bersangkutan. Keterangan aposisi memberikan penjelasan nomina, contohnya subjek dan objek.

Jika ditulis, keterangan aposisi diapit dengan tanda koma, tanda pisah (-), atau tanda kurung.

Contohnya: Pak Suharsono, Ketua RT, memberikan informasi terkait pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

7. Keterangan Tambahan

Keterangan tambahan akan memberikan penjelasan nomina (subjek atau objek). Namun berbeda dengan keterangan aposisi.

Keterangan aposisi bisa menggantikan unsur yang diterangkan. Sementara keterangan tambahan tidak dapat menggantikan unsur yang diterangkan.

Contohnya: Rahma, siswa kelas dua, meraih juara 1 lomba membaca puisi.

8. Keterangan Pewatas

Keterangan pewatas berfungsi memberikan pembatas antara nomina. Contohnya: subjek, predikat, objek, keterangan, dan juga pelengkap.

Apabila keterangan tambahan bisa dihilangkan, maka keterangan pewatas tidak dapat dihilangkan.

Contoh: Siswa yang mendapatkan nilai sembilan, akan mendapatkan beasiswa.

Struktur Kalimat

Setiap kalimat memiliki struktur atau pola dasar. Dalam kalimat bahasa Indonesia, pola dasar kalimat beraneka ragam.

Berikut uraian macam-macam pola dasar kalimat bahasa Indonesia.

1. Kalimat dasar berpola SP

Kalimat dengan pola dasar SP hanya memiliki dua unsur, yaitu subjek dan predikat. Predikat dalam kalimat tersebut dapat berupa kata kerja, kata benda, kata sifat, dan kata bilangan.

Contoh: Ayah sedang bekerja.

Ayah sebagai subjek dan bekerja sebagai predikat.

2. Kalimat dasar berpola SPO

Kalimat dengan pola dasar SPO sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Contoh: Naila mencuci pakaian.

Naila sebagai subjek, mencuci sebagai predikat, sedangkan pakaian sebagai objek.

3. Kalimat dasar berpola SPPel

Contoh: Raisa sedang pergi liburan.

Raisa sebagai subjek, sedang pergi sebagai predikat, dan liburan sebagai pelengkap.

4. Kalimat dasar berpola SPOPel

Contoh: Ayah memotong kayu menggunakan gergaji.

Ayah sebagai subjek, memotong sebagai predikat, kayu sebagai objek, dan menggunakan gergaji merupakan pelengkap.

5. Kalimat dasar berpola SPK

Contoh: Nenek pergi ke Surabaya.

Nenek sebagai subjek, pergi sebagai predikat, dan ke Surabaya sebagai keterangan tempat.

6. Kalimat dasar berpola SPOK

Contoh: Malika mengerjakan tugasnya tadi sore.

Malika sebagai subjek, mengerjakan sebagai predikat, tugasnya sebagai objek, dan tadi sore merupakan keterangan waktu.

7. Kalimat dasar berpola S-P-O-Pel-K

Contoh: Suci memasakkan ibunya sup iga di dapur.

Suci merupakan subjek, memasakkan sebagai predikat, ibunya sebagai objek, sup iga sebagai pelengkap, dan di dapur sebagai keterangan tempat.

8. Kalimat dasar berpola S-P-Pel-K

Contoh: Iqbal sedang pergi liburan ke Korea.

Iqbal sebagai subjek, sedang pergi sebagai predikat, liburan sebagai pelengkap, dan ke Korea sebagai keterangan tempat.

Jenis-Jenis Kalimat

Kalimat memiliki beberapa jenis. Pembagian jenis tersebut berdasarkan pada beberapa kriteria, yaitu dari segi makna, diathesis kalimat, urutan kalimat, struktur gramatikal, unsur kalimat, dan pengucapan.

Berikut uraian masing-masing jenis kalimat.

1. Kalimat Berdasarkan Makna

Kalimat berdasarkan makna, kalimat memiliki 6 macam, yaitu kalimat berita, perintah, perintah taktransitif, perintah transitif aktif, perintah bentuk pasif, tanya, dan seru.

A. Kalimat Berita

Kalimat berita adalah kalimat yang isinya memberitakan sutau kejadian atau suatu keadaan. Dalam bentuk tertulis, kalimat berita diakhiri tanda baca titik. Dalam bentuk lisan, kalimat berita ditandai intonasi nada turun di akhir kalimat.

Contoh kalimat berita:

  • Ayah memberli surat kabar tadi pagi.
  • Banyak anak balita mengalami gejala demam berdarah.

B. Kalimat Perintah

Kalimat perintah merupakan kalimat yang berisikan perintah untuk melakukan sesuatu atau larangan. Dalam bentuk tertulis kalimat perintah ditandai dengan tanda baca seru (!). Dalam bentuk ujaran, kalimat perintah ditandai dengan intonasi nada tinggi.

Contoh kalimat perintah:

  • Bukalah jendela itu!
  • Buatlah minum untuk kedua tamu yang datang

C. Kalimat Perintah Taktransitif

Kalimat perintah taktransitif memiliki kaidah dalam penyusunannya, yaitu:

  1. Menghilangkan subjek dan berupa pronomina persona kedua.
  2. Bentuk verba apa adanya.
  3. Menggunakan partikel –lah untuk memperhalus kalimat.

Contoh kalimat perintah taktransitif:

  • Kamu berjalanlah sekali-kali!
  • Berliburlah ke rumah pamanmu!

D. Kalimat Perintah Transitif Aktif

Kalimat perintah transitif aktif memiliki kaidah dalam penyusunannya, yaitu:

  1. Verba harus diubah dalam bentuk perintah dengan menghilangkan prefiks meng- terlebih dahulu.
  2. Sufiks tetap dipertahankan

Contoh:

  • Kamu membawa perlengkapan seperlunya saja (kalimat berita).
  • Bawalah perlengkapan seperlunya saja (kalimat perintah).
  • Kamu menjualkan sayuran milik pamanmu (kalimat berita).
  • Jualkan sayuran milik pamanmu (kalimat perintah).

E. Kalimat Perintah Bentuk Pasif

Kalimat perintah bentuk pasif menggunakan verba dalam keadaan pasif, sedangkan urutan kata tidak mengalami perubahan.

Contoh:

  • Pekerjaanmu harus diselesaikan secepatnya!
  • Kardus-kardus itu harus dikeluarkan sekarang juga!

Selain kalimat perintah bentuk pasif, kalimat perintah juga memiliki dua bentuk yang lainnya, yaitu penghalus kalimat perintah dan kalimat perintah bentuk ingkar.

1. Kalimat penghalus perintah bisa menggunakan kata-kata: coba, tolong, dan silahkan.

Contoh: Tolong keluarkan baju-baju bekas itu!

2. Kalimat perintah bentuk ingkar bisa menggunakan kata-kata: jangan dan ditambah dengan partikel –

Contoh: Janganlah mencontek saat mengerjakan ujian!

F. Kalimat Tanya

Kalimat tanya adalah kalimat yang ditandai dengan penggunaan kata tanya, apa, siapa, kapan, mengapa, bagaimana, dan di mana. Kadang kalimat tanya menggunakan partikel –kah berfungsi sebagai penegas dalam kalimat tanya.

Pada bahasa tertulis, kalimat tanya diakhiri dengan tanda tanya (?). Sementara pada bahasa lisan ditandai dengan intonasi nada naik.

Kalimat tanya memiliki dua kegunaan, yaitu:

1. Untuk meminta jawaban ya atau tidak

Contohnya: “Apakah kamu mengetahui alamat rumah Ayu?”

2. Untuk meminta informasi mengenai sesuatu atau seseorang dari lawan bicara atau pembaca.

Contohnya: “Di mana lokasi Kebun Binatang Surabaya?”

Terdapat empat cara yang dilakukan untuk membuat kalimat tanya:

1. Menambahkan partikel penanya apa, yang harus dibedakan dari kata tanya apa.

Contoh:

  • Dia mengajar di SD Tunas Bangsa.
  • Apa dia mengajar di SD Tunas Bangsa?

2. Dengan membalikkan susunan kata.

Contoh:

  • Kakak sudah menyelesaikan tugas sekolahnya.
  • Sudahkah kakak menyelesaiakan tugas sekolahnya?

3. Dengan menggunakan kata bukan(kah) atau tidak (kah).

Contoh:

  • Dia marah.
  • Dia marah, bukan?
  • Bukankah dia marah?

4. Dengan mengubah intonasi menjadi naik.

Contoh:

  • Pasien penyakit demam berdarah meningkat di musim hujan.
  • Pasien penyakit demam berdarah meningkat di musim hujan?

G. Kalimat Seru

Kalimat seru merupakan kalimat yang digunakan untuk menyampaikan rasa kagum terhadap sesuatu, sehingga menggunakan tanda seru (!)

Contoh:

  • Wah, bagus sekali bajumu!
  • Hore, aku bisa menyelesaikan PR matematika!
  • Gadis itu manis!

2. Kalimat Berdasarkan Diathesis

Kalimat diathesis dibagi menjadi dua, yaitu kalimat aktif dan kalimat pasif. Berikut uraian masing-masing dari kedua jenis kalimat tersebut.

A. Kalimat Aktif

Kalimat aktif merupakan kalimat dengan subjek langsung melakukan pekerjaan terhadap objeknya. Kata kerja dalam kalimat aktif menggunakan awalan me- atau tidak disertai dengan imbuhan.

Contoh:

  • Kiki memetik gitar saat mengiringi lagu kesukaannya. (awalan me-)
  • Ayah masuk kantor pukul 07.30 WIB. (tanpa awalan)

B. Kalimat Pasif

Kalimat pasif merupakan kalimat yang menggunakan kata kerja dengan imbuhan di- atau ter-.

Contoh:

  • Mika dibangunkan ibunya pukul 5 pagi.
  • Pesan Pak Doni tersampaikan dengan baik.

3. Kalimat Berdasarkan Urutan Kata

Berdasarkan urutan kata, kalimat dibagi menjadi empat yaitu kalimat normal, inverse, minor, dan mayor. Berikut uraian masing-masing kalimat.

  • Kalimat normal, yaitu kalimat yang subjeknya mendahului predikat.
  • Kalimat inverse, yaitu kalimat yang predikatnya mendahului subjek.
  • Kalimat minor, yaitu kalimat yang memiliki satu inti fungsi gramatikalnya. Kalimat minor berupa kalimat jawaban, kalimat salam, kalimat panggilan ataupun judul.
  • Kalimat mayor, yaitu kalimat yang hanya memiliki subjek dan predikat. Sedangkan objek, pelengkap, dan keterangan dapat ditambahkan sesuka hati.

4. Kalimat Berdasarkan Struktur Gramatikal

Berdasarkan struktur gramatikalnya, kalimat dibagi menjadi dua yaitu kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Berikut iraian masing-masing.

A. Kalimat Tunggal

Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya memiliki unsur subjek dan predikat.

Contoh: Ibu berjalan.

Pada kalimat tersebut memiliki subjek dan predikat saja sehingga dapat dikategorikakn ke dalam kalimat tunggal.

B. Kalimat Majemuk

Kalimat majemuk merupakan kalimat yang mengalami penggabungan struktur kalimat sehingga memiliki beberapa kalimat dasar.

Kalimat majemuk dibagi menjadi tiga, yaitu kalimat majemuk setara, kalimat majemuk bertingkat, dan kalimat majemuk campuran.

1. Kalimat majemuk setara

Kalimat majemuk setara adalah kalimat majemuk yang terdiri atas dua kalimat tunggal atau lebih yang digabungkan.

Kata penghubung yang menunjukkan kesetaraan, seperti dan, atau, tetapi, dan sedangkan.

Contoh: Kaila suka bermain lompat tali, sedangkan Nadia lebih suka bermain boneka.

2. Kalimat Majemuk Bertingkat

Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat yang terdiri atas unsur induk kalimat dan anak kalimat. Induk kalimat merupakan inti gagasan, sedangkan anak kalimat adalah gagasan yang dikaitkan dengan gagasan induk kalimat.

Kata yang digunakan sebagai penanda anak kalimat antara lain walaupun, meskipun, bahwa, jika, kalau, sehingga, supaya, setelah, sebelum, dan ketika.

Contoh: Kami sedang menonton TV ketika ayah tiba dari kantor.

3. Kalimat Majemuk Campuran

Kalimat majemuk campuran merupakan kalimat campuran antara kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat.

Penanda kalimat majemuk campuran ialah adanya kata penghubung yang menunjukkan hubungan kesetaraan. Selain itu, ada juga kata penghubung yang menunjukkan hubungan antara induk kalimat dan anak kalimat.

Contoh: Serina tidak berangkat ke sekolah karena sakit dan harus segera berobat ke dokter.

5. Kalimat Berdasarkan Unsur Kalimat

Berdasarkan unsurnya, kalimat dibagi menjadi dua yaitu kalimat lengkap dan kalimat tidak lengkap. Berikut uraian masing-masing kalimat.

A. Kalimat Lengkap

Kalimat lengkap merupakan kalimat yang mengikuti pola dasar dari suatu kalimat baik yang sudah dikembangkan ataupun tidak. Penggunaan unsur-unsur yang jelas sehingga dapat mudah dipahami.

Contoh: Wati membersihkan meja ruang makan.

B. Kalimat Tidak Lengkap

Kalimat tidak lengkap atau kalimat tidak sederhana merupakan kalimat yang hanya memiliki salah satu unsur dalam kalimat. Kalimat ini bisa berupa semboyan, salam, perintah, pertanyaan, ajakan, jawaban, larangan, sapaan, dan sebagainya.

Contoh: Siapa kamu?

6. Kalimat Berdasarkan Pengucapan

Berdasarkan pengucapannya kalimat dibagi menjadi dua, yaitu kalimat langsung dan kalimat tidak langsung. Berikut uraian masing-masing.

A. Kalimat Langsung

Kalimat langsung merupakan kalimat yang secara detail menirukan sesuatu yang disampaikan orang lain. Tanda baca kutip juga digunakan dalam mpenulisan kalimat langsung.

Kalimat langsung dapat berupa kalimat tanya, kalimat berita, ataupun kalimat perintah.

Contoh: “Jangan keluar rumah tanpa menggunakan masker!” perintah Ibu.

B. Kalimat Tak Langsung

Kalimat tak langsung merupakan kalimat yang melaporkan kembali mengenai kalimat yang disampaikan orang lain. kalimat tak langsung berupa kalimat berita.

Contoh: Ibu menyuruhku jangan keluar rumah tanpa menggunakan masker.

Fungsi Kalimat

Fungsi dari kalimat terdiri atas subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. Berikut uraian masing-masing.

  1. Subjek, yaitu pokok kalimat yang bisa dicari dengan pertanyaan “Siapa/Apa yang dibicarakan oleh kalimat?”. Subjek dalam kalimat berupa kata benda
  2. Predikat, yaitu keterangan langsung terhadap suatu subjek yang bisa dicari dengan pertanyaan “Ada apa dengan subjek? Apa yang dilakukan subjek? Bagaimana keadaan subjek?”
  3. Objek, yaitu bagian dari kalimat yang bisa diubah menjadi subjek dengan cara dipasifkan atau diaktifkan. Objek bisa ditemukan dengan mengubah kalimat menjadi pasif atau aktif pada sebuah kalimat. Bagian yang berubah menjadi subjek merupakan objeknya.
  4. Pelengkap, yaitu unsur yang menyerupai objek. Ciri pelengkap tidak bisa dipindahkan atau melompati subjek dan predikat serta tidak dapat diubah menjadi subjek.
  5. Keterangan, yaitu unsur kalimat yang sifatnya menjelaskan. Ciri dari keterangan bisa dipindahkan dengan melewati subjek serta predikat, tanpa mengubah arti dari kalimat tersebut.

Demikian penjelasan terkait kalimat, mulai dari pengertian hingga fungsi kalimat. Semoga bisa memberikan manfaat dan mudah dalam memahaminya. Terima kasih.

Tinggalkan komentar