PENGERTIAN RESENSI: Manfaat, Struktur, Unsur, & Contoh

Resensi berasal dari bahsa Latin revidere atau resecere. Artinya, melihat kembali, menimbang, atau menilai. Kegiatan resensi dapat juga dilakukan terhadap karya sastra. Peresensian karya sastra seperti prosa, puisi, maupun drama ditujukan untuk menilai baik buruknya suatu karya.

Istilah resensi dikenal juga dengan sebutan timbangan buku, tujuan buku, dan bedah buku. Tanpa resensi, bobot kualitas dari sebuah buku tidak akan diketahui siapa pun. Isi resensi pun bermacam-macam, mulai dari gambaran karya, pujian, atapun kritikan.

Pengertian Resensi

Resensi adalah tulisan yang berisi pembicaraan atau penilaian terhadap kualitas (kelebihan dan kekurangan) sebuah buku serta rekomendasi mengenai patut atau tidaknya buku tersebut mendapatkan sambutan dari masyarakat.

Meresensi buku dapat berarti memberikan penilaian, mengungkapkan kembali isi buku, membahas, atau mengkritik buku dengan maksud memberikan informasi isi buku kepada masyarakat luas .

Tujuan Resensi

Dalam penulisan resensi  tentu memiliki tujuan tertentu. Berikut uraian dari tujuan resensi.

  • Menunjukkan kepada khalayak apakah karya itu patut mendapat sambutan atau tidak.
  • Mengulas isi buku berdasarkan unsur yang ada dalam buku atau pun dikaitkan dengan dunia luar.
  • Memberikan informasi atau pemahaman tentang apa yang diungkapkan dalam sebuah buku.
  • Memberikan pertimbangan kepada pembaca apakah sebuah buku pantas mendapat sambutan.
  • Mengajak membaca untuk memikirkan, merenungkan, dan mendiskusikan problem yang muncul dalam sebuah buku.
  • Membantu pembaca atau penikmat karya untuk mengetahui latar belakang dan alasan mengepa sebuah kaya dibuat.
  • Mengetahui kualitas karya untuk dibandingkakn dengan karya sejenis lainnya.

Manfaat Resensi

Resensi memiliki beberapa manfaat, di antaranya sebagai berikut:

1. Bahan Pertimbangan

Resensi dapat memberikan gambaran terhadap pembaca terkait suatu karya. Dalam hal ini, resensi dapat memberikan pengaruh terhadap pembaca dan dijadikan sebagai bahan pertimbangan.

2. Nilai Ekonomis

Resensi yang dimuat pada surat kabar, baik berupa buku, film, maupun yang lainnya tentu akan mendapatkan imbalan.  Imbalan tersebut berupa buku ataupun honor kepada penulisnya.

3. Sarana Promosi

Karya yang diresensi merupakan karya yang masih baru dan belum diketahui oleh banyak orang. Oleh karena itu, perlu adanya resensi agar karya tersebut bisa dikenal oleh banyak orang. Inilah yang disebut sebagai sarana untuk mempromosikan suatu karya.

4. Mengembangkan Kreativitas

Menulis merupakan kegiatan kreatif yang memerlukan keahlian. Menulis resensi juga merupakan salah satu kegiatan kreatif yang perlu dipelajari. Dengan demikian menulis resensi sebagai sarana untuk mengembangkan kreativitas.

Langkah-Langkah Meresensi

Dalam kegiatan resensi tentu ada langkah-langkah yang perlu dilakukan. Hal ini bertujuan  agar memudahkan penulis dalam menyusun dan esensi dari resensi tercapai.

Berikut langkah-langkanya.,

  1. Kenalilah buku mulai dari tema, identitas penerbit, siapa pengarang, dan golongan buku (ekonomi, pendidikan, bahasa, dan lain-lain).
  2. Bacalah buku secara komprehensif, cermat, dan teliti.
  3. Tandailah bagian-bagian buku yang dianggap khusus atau penting.
  4. Buatlah sinopsis atau intisari buku.
  5. Tentukanlah susunan organisasi penulisan isi, bahasa, dan aspek teknis resensi.
  6. Koreksi dan revisilah hasil resensi.

Unsur-Unsur Resensi

Pada bagian ini akan dibahas mengenai unsur-unsur resensi yang meliputi judul resensi, identitas buku, garis besar isi buku, pengungkapan keunggulan, dan kelemahan isi buku.

1. Judul Resensi

Judul resensi pada dasarnya bisa mewakili atau memuat gagasan buku yang ditulis pengarang. Di samping itu, pemilihan judul resensi dapat dibuat peresensi dengan melihat keadaan sosial tempat buku itu dilahirkan.

2. Identitas Buku

Dalam menunjukkan identitas buku, perlu dikemukakan:

  • Judul buku
  • Pengarang buku
  • Penerbit, tempat terbit, waktu terbit
  • Jumlah halaman buku

Dalam identitas buku biasanya disertai gambar sampul buku untuk menarik perhatian. Selain itu, beberapa peresensi mencantumkan harga agar pembaca bisa menyesuaikan.

3. Pendahuluan

Resensi biasanya dibuka dengan dengan sesuatu yang menarik perhatian. Misalnya, keunikan pengarang, latar belakang lahirnya buku, sambutan masyarakat terhadap buku, cuplikan-cuplikan isi buku yang menarik perhatian, dan sebagainya. Terkadang pada bagian pembukaan resensi diawali dengan sebuah pertanyaan.

4. Isi resensi

Bagian isi resensi buku mengungkapkan bagian yang menarik dalam buku. Isi tersebut bisa berupa ungkapan, kalimat, pendapat, dan kutipan isi buku yang menarik untuk menimbulkan minat pembaca.

Bagian isi juga mengungkapkan kelemahan dan kelebihan buku, manfaat yang diperoleh pembaca dengan membaca buku, kebermaknaan isi buku dalam konteks keadaan saat ini, dan siapa saja yang bisa memanfaatkan buku tersebut.

Adapun hal yang dapat dipuji atau dikritik dari sebuah buku adalah isi buku, cara menyajikan buku, bahasa yang digunakan, dan ilustrasi atau gambar-gambar dalam buku.

5. Penutup

Bagian penutup berisi ajakan atau simpulan dari resensi buku. Dalam bagian ini juga disampaikan alasan mengapa buku atau karya tersebut perlu dibaca atau dinikmati pembaca.

Struktur Resensi

Keterampilan membuat resensi karya sastra merupakan keterampilan bermakna yang perlu dipelajari.  Salah satunya adalah mengetahui struktur resensi itu sendiri. Berikut adalah struktur resensi.

1. Identitas

Identitas resensi terdiri atas judul buku, pengarang buku, penerbit, tempat terbit, waktu terbit, dan jumlah halaman buku. Identitas tersebut juga bisa disesuaikan dengan film atau karya sastra lainnya.

2. Orientasi

Orientasi merupakan bagian awal dalam resensi. Bagian ini berfunsi sebagai pembuka yang berisi penjelasan mengenai berbagai penghargaan yang diterima oleh karya yang diresensi.

3. Sinopsis

Sinopsis merupakan ringkasan dari keseluruhan isi karya yang diresensi berdasarkan penulis.

4. Analisis

Analisis merupakan paparan mengenai unsur-unsur dalam karya yang diresensi. Pada buku, bagian ini bisa berisi kutipan-kutipan yang terdapat dalam buku.

Namun pada novel atau film, bagian ini dapat mengulas terkait tema atau tokoh dalam karya.

5. Evaluasi

Evaluasi merupakan bagian pengungkapan mengenai keunggulan dan kelemahan karya yang diresensi.

Contoh Resensi Singkat

Judul Novel: Pesantren Impian

Penulis: Asma Nadia

Tahun Terbit: 2014

Penerbit: AsmaNadia Publishing House

Tebal: 314 halaman

“Karena Selalu Ada Kesempatan Kedua”

Pesantren Impian merupakan satu di antara beberapa novel yang telah dilahirkan oleh penulis kenamaan Asma Nadia. Novel ini telah diangkat ke layar lebar pada tahun 2016.

Namun ada yang berbeda jika dibandingkan dengan karya wanita yang sempat mengenyam pendidikan di IPB ini.

Pesantren Impian bisa dikatakan satu-satunya novel misteri bergenre detektif.  Berbeda dengan buku-bukunya yang lain, yang kebanyakan bertema keluarga, percintaan, atau motivasi.

Novel Pesantren Impian ini, mengisahkan gadis-gadis kelam dengan masa lalu beraneka ragam yang mendapat undangan misterius untuk tinggal di Pesantren Impian.

Letak pesantren tersebut berada di Pulau Lhok Jeumpa Aceh. Sebuah pulau terpencil yang bahkan tidak tercantum pada peta Aceh.

Mereka yang jenuh dengan kehidupan kelam sebelumnya, tidak menampik tawaran undangan misterius untuk tinggal di Pesantren Impian tersebut. Pesantren Impian sendiri didirikan oleh Teungku Budiman, sebagai penebus dosa masa lalu yang hitam nan legam.

Sissy dan Inong, mereka kakak beradik meskipun bukan saudara kandung. Sissy model cantik yang bergelimang harta. Ayah dan ibunya tak pernah peduli dengannya. Sejak usia 14 tahun sudah terlibat dengan narkoba.

Berikutnya adalah Rini, yang sempat mencoba bunuh diri namun gagal. Kehamilannya menjadi penyebabnya nekat untuk mengakhiri hidupnya.

Dia tidak pernah tahu laki-laki yang telah merenggut mahkotanya. Ada juga Butet, yang pernah terlibat drugs dealer dan debt collector. Dia merupakan kaki tangan mafia narkoba.

Ada juga Yanti pernah dirawat di klinik rehabilitasi bagi pecandu. Masih ada si kembar Sinta dan Santi, lalu Ita, Iin, Ina, Evi, Ipung, dan Sri.

Berikutnya Eni, polwan yang menyamar demi mengungkap kasus pembunuhan di Tiara Hotel Medan. Diduga pembunuh tersebut satu di antara mereka.

Hari-hari yang mereka lalui sungguh menyenangkan. Mereka disibukkan dengan aktivitas positif dan tentunya semakin mendekatkan diri pada Tuhan. Tentu mereka telah mengalami banyak perubahan.

Namun ketenangan sedikit terusik saat satu dari gadis-gadis itu dibunuh. Keamanan Pesantren Impian mulai terancam. Semua penghuni menjadi bertanya-tanya, siapa yang telah melakukan pembunuhan itu?

Kelebihan dari novel ini terletak pada rangkaian ceritanya. Alur yang begitu mengalir membuat pembaca dibuat penasaran bagaimana kisah selanjutnya.

Penulis telah berhasil membangun suasana tegang, menakutkan, dan mencekam, yang merupakan gambaran khas novel berjenis misterius.

Di Pesantren Impian itulah, kesempatan kedua bagi gadis-gadis dengan masa lalu kelam mulai bangkit dari kubang yang gelap. Meski niatan tersebut sempat surut oleh teror pembunuhan, namun tidak mengurungkan tekat mereka. Ya, memang butuh tenaga ekstra untuk mendapatkan kesempatan kedua.

Bagian terpenting dari sebuah cerita adalah pesan yang ingin disampaikan penulis. Pesan bahwa kita tidak mampu memutar waktu yang telah dilalui, namun kesempatan kedua itu selalu ada, meskipun yang dilalui tidak semulus jalan tol.

Penulis meyakinkan kepada wanita-wanita yang terlanjur “hancur” di masa lalunya, entah apapun penyebabnya, baik karena narkoba atau pergaulan bebas, bisa berubah atau bermetamorfosis menjadi lebih baik.

Seperti biasa, Asma Nadia berusaha menyampaikan pesan tersebut dengan bahasa yang sederhana, santun, dan mudah dipahami.

Pembelajaran bagi setiap wanita, novel Pesantren Impian mengingatkan kembali bahwa sosok wanita memiliki tugas yang tidak mudah. Bahkan kita sering mendengar istilah wanita atau ibu adalah madrasah ula yang artinya sekolah (pendidikan) pertama bagi anak-anak sebelum mendapatkan pendidikan yang lain.

Wanita yang memahami tugasnya dengan baik, tentu  akan melahirkan generasi penerus bangsa yang baik pula. Sebaliknya, jika kaum wanita tidak mampu memahami perannya, maka harapan melahirkan penerus

Penulis menyampaikan bahwa menjadi seorang wanita tidaklah mudah. Kaum ini dituntut menjadi sekolah pertama dan utama. Padahal waktu kecil tidak semua wanita mendapatkan pendidikan baik dari kedua orang tua.

Barangkali memang benar anggapan bahwa, kita tidak bisa memilih dilahirkan dari orang tua yang seperti apa. Jangan bersedih atau balas dendam jika belum mendapatkan pendidikan yang baik.

Yang jelas, tetap selalu berusaha menjadi ibu atau ayah yang baik untuk anak-anak kelak.

Demikian ulasan terkait resensi, mulai dari pengertian resensi, struktur, unsur-unsur, dan juga contoh resensi buku. Semoga uraian tersebut bisa dipahami dengan mudah dan memberikan manfaat untuk kalian. Terima kasih.

Tinggalkan komentar